Jl. Petemon III / 187B, Surabaya Jawa Timur T. (031) 9901 5203

tips memilih proyektor home theaterYANG murah & SESUAI KEBUTUHAN

Proyektor untuk home theater di rumah itu tidak perlu yang mahal, seharga 1 jutaan saja sudah cukup untuk melihat film bioskop atau nonton bareng bersama teman-teman. Seperti layar tancap di cafe, bedanya acara nobar kali ini di rumah sendiri. Berikut ini tips memilih proyektor murah yang sesuai kebutuhan anda.

Tips memilih proyektor home theater murah

LUMENS DAN CONTRAST RATIO

Secara sederhana semakin tinggi lumens dan contrast-ratio akan semakin baik hasilnya. Lumens adalah tingkat kecerahan dari proyektor. Semakin tinggi akan semakin terang. Sementara contast-ratio adalah perbandingan antara warna hitam dengan putih. Semakin tinggi, detail gambar akan semakin terlihat.

Cherlux C6 - 1.200 Lumens | 1200:1 Contrast Ratio
1.200 Lumens | 1:1200 Contrast Ratio

Untuk proyektor home theater kebutuhan minimal adalah 1.000 lumens. Mengapa ? Karena kita pasti akan mengelap-kan ruangan kita untuk menonton film. Situasinya persis dengan nonton di bioskop. Tujuan kita adalah menonton, bukan menulis atau mendengarkan orang lain pidato.

Berbeda dengan proyektor yang ada di cafe atau di sekolah. Ruangannya tidak boleh di-gelap-kan 100%. Mereka akan kesulitan mengambil gelas untuk diminum. Untuk proyektor kafe, 2.500 lumens sudah cukup karena kondisi pencahayaan remang-remang. Sedangkan proyektor untuk presentasi idealnya harus 4.000 lumens karena pesertanya membutuhkan penerangan yang cukup untuk menulis.

Apakah proyektor home theater yang memiliki 3.000 lumens itu lebih baik daripada yang 1.000 lumens. Dilihat dari tingkat kecerahan gambarnya… memang betul lebih baik. Tetapi memiliki akibat pada mata yang lebih cepat lelah karena menyilaukan. Bayangkan saja, dengan kondisi remang-remang saja, 3.000 lumens dapat dilihat dengan jelas. Apalagi sekarang kondisinya gelap total. Apa ruangannya tidak menjadi terang benderang ?

Proyektor yang ideal memang memiliki lumens dan contrast-ratio yang tinggi. Namun masalahnya di kantong. Harga proyektornya mahal. Karena itu pabrikan proyektor membagi produknya dengan dua kategori, high lumens dan high contrast. Untuk proyektor presentasi paling tepat mengunakan high lumens. Mengapa ?

Karena yang paling dibutuhkan penontonnya adalah kejelasan materi. Bukan detail gambar atau video-nya. Kapan kita membutuhkan high contrast proyektor ? Ketika tujuan utama kita membeli proyektor untuk home theater.

Arti contrast ratio 1.200 : 1 adalah perbedaan antara warna hitam adalah 1.200 kali warna putih. Ada 1.200 perbedaan warna dari hitam ke abu-abu dan terakhir putih. Jelas variasi warnanya lebih banyak daripada proyekyor yang memiliki spesifikasi contrast-ratio 800:1.

Jika kedua proyektor ini disejajarkan dan memutar film yang sama akan terlihat perbedaannya. Proyektor A yang memiliki contrast-ratio lebih tinggi akan menampilkan gambar yang mendetail, namun hanya nampak hitam saja di proyektor B.

Sementara High Lumens proyektor ditujukan untuk segmen pasar pendidikan, perkantoran dan pemerintahan yang membutuhkan proyektor untuk presentasi produk atau seminar.

Contoh Proyektor 1.200 lumens pada kondisi menyala

PROYEKTOR HDMI & USB MULTIMEDIA

Ingat, tujuan utama anda membeli proyektor adalah untuk menonton film bioskop. Karena itu harus memiliki input yang lengkap. Ada port HDMI yang merupakan kebutuhan mendasar sekarang ini. Ada port VGA untuk menyambungkan laptop atau komputer untuk karaoke. Ada port RCA untuk menyetel DVD. Ada port USB untuk melihat film hasil download di kantor.

Proyektor HDMI, VGA, USB, RCA dan TV Tuner
Pastikan ada port HDMI di proyektor

Selain ke-4 input tadi, pastikan proyektor home theater murah yang akan anda beli memiliki port Audio Out atau Line Out. Mengapa ? Karena gambar jelas tanpa didukung suara yang menggelegar akan terasa pincang. Colokan audio out ini biasanya berupa female jack stereo 3,5mm. Bentuknya dan ukurannya persis colokan headphone ponsel anda. Walaupun inputnya satu kabel, tetapi audio yang keluar akan stereo.

Biasanya kabel jack 3.5mm stereo to RCA ini tidak termasuk dalam paket proyektor. Pastikan anda membelinya sebelum pulang ke rumah. Harga pasaran kabel audio satu keluar dua ini antara Rp 7.500 - Rp 30.000. Di mana letak perbedaannya ? Secara fisik hanya terlihat warnanya. Ada yang biru, putih, hitam dan transparan. Setelah anda sambungkan ke speaker aktif baru terasa.

Kabel audio yang jelek akan menghasilkan suara yang ampang. Saya menyebutnya dengan istilah “mendem”. Bass dan trebel tidak keluar. Ada suara yang hilang, terutama high dan low-nya. Seperti suara gemericik air hujan, suara symbal atau suara benturan. Anda tidak akan bisa tahu dari ciri-ciri fisiknya atau harganya. Hanya dari kejujuran dan pengetahuan seller-nya.

Bisa saja, sellernya emang jujur, tapi pengetahuan perkabelannya kurang. Jadi dapet kabelnya yang kualitas rendah. Ato sebaliknya anda sebagai pembeli cari yang paling murah. Padahal harga kabel audio yang lumayan baik hanya selisih 5.000 - 10.000 rupah saja. Sedangkan kualitas audionya berbeda jauh.

Ngomong-ngomong tentang audio, pastikan proyektor mini yang akan anda beli memiliki speaker internal. Biasanya memiliki satu speaker saja, sifatnya mono audio. Suaranya tidak terlalu keras, tapi bisa didengarkan jika suasanya tidak terlalu ramai.

Fasilitas speaker internal ini akan sangat berguna jika proyektor murah anda memiliki fasilitas TV Tuner. Salah satu cirinya memiliki colokan antena TV. Cukup tancap antenanya lalu scan, secara otomatis akan mencari siaran televisi.

Ada dua jenis siaran TV yang mengudara di Indonesia, digital dan analog. TV Digital gambarnya lebih bagus, tajam dan jernih dibandingkan siaran TV Analog. Tetapi jangkauan TV Digital lebih terbatas dibandingkan TV Analog. Jadi tidak semua channel digital dapat ditangkap oleh proyektor ini. Sangat tergantung dari lokasi anda.

TV digital memerlukan receiver yang berbeda dengan TV Analog. Istilahnya DVTB-T2. Rata-rata proyektor yang beredar di pasaran sudah memiliki kedua receiver ini. Agar tidak salah paham, tanyakan kepada penjual mengenai siaran yang dapat ditangkap. Apakah TV Digital saja ? Apakah TV Analog saja ? Atau dua-duanya ?

Saran saya, lebih baik membeli proyektor yang bisa menangkap siaran TV Analog daripada TV Digital karena jumlah salurannya lebih banyak. Di tempat kami, proyektor TV ini dapat menangkap 20 channel analog dan hanya 4 channel digital. Padahal tempat kami di pusat kota Surabaya. Bukan berarti, lokasi anda tidak akan mendapatkan TV Digital sama sekali. Tanyakan kepada tetangga anda silaran TV Digital apa yang bisa ditemukan.

Dengan adanya TV digital, kita bisa membuka layar tancap dirumah. Mengundang teman-teman untuk nonton bersama pertandingan sepak bola yang ditayangkan televisi lokal. Lebih praktis daripada membawa televisi terus disambungkan ke proyektor melalui RCA out.

90% TV LED memiliki HDMI In. Port ini tidak bisa disambungkan ke proyektor. Yang anda butuhkan adalah HDMI Out. Contoh HDMI In adalah dari DVD player ke TV. Karena port HDMI DVD itu adalah HDMI Out.

Port HDMi di proyektor adalah HDMI In, sementara port HDMI di HDTV adalah HDMI In juga. Jadi IN ke IN, pasti tidak keluar gambarnya. Lupakan ide untuk menyambungkan TV ke Proyektor menggunakan kabel HDMI. Jadi bagiamana solusinya nonton TV di proyektor ?

100% TV pasti memiliki colokan RCA Out. Mulai dari jaman TV Tabungan hingga jaman TV Curve. Port inilah yang akan anda gunakan untuk menyambungkan TV ke proyektor. Hanya jangan salah mencolokkan kabel Merah-Putih-Kuning ke RCA IN. Ya betul ! TV anda memiliki port RCA OUT dan RCA IN !

Berarti analog dong pak ? Bagaimana dengan kualitas gambarnya ? Sangat tergantung dengan resolusi proyektor anda….

NATIVE RESOLUTION DAN DISPLAY RESOLUTION

Resolusi gambar adalah jumlah titik dalam satu kotak. Jika resolusinya 480x320 berarti ada 480 titik horizontal dan 320 titik vertikal. Atau ada 480 baris dan 320 lajur dalam satu kotak. Semakin banyak titiknya, semakin halus gambarnya.

Semua televisi memiliki resolusi, termasuk TV tabung lama kita. Resolusinya adalah 576x520 pixel. Sedangkan resolusi TV Led umumnya 1280x720 atau HDTV. Sedangkan Full HD TV memiliki resolusi 1920x1080p. Generasi TV terbaru yang disebut dengan TV 2K memiliki resolusi 3840x2160 pixel sedangkan TV 4K yang sedang booming ber-resolusi 7680x4320p.

Ini adalah resolusi asli televisi atau proyektor anda. Semakin tinggi, akan semakin halus gambarnya, sebagaimana kita terpesona dengan tampilan TV 4K yang sangat realistis. Seakan-akan sedang berada di lokasinya, seakan-akan orangnya berada di depan kita. Terminologi resolusi asli ini disebut sebagai Native Resolution.

Semakin tinggi native resolutionnya, harganya akan semakin mahal pula. Sebagai contoh proyektor dengan native resolution 320x240 harganya berkisar di angka 500 ribuan. Satu tingkat di atasnya, 480x320 harganya di kisaran 600ribuan. Sementara proyektor home theater yang paling populer memiliki resolusi 640x480 dengan harga 800 ribuan. Setingkat diatasnya ber-resolusi 800x480 pixel. Kisaran harganya 900-1,3 juta.

Sebenarnya proyektor 320p, sebutan untuk native resolution 480x320, sudah cukup bagus dan gambarnya masih bisa dilihat. Selama tidak disejajarkan dengan proyektor lainnya yang memiliki resolusi lebih tinggi, kita tidak akan bisa melihat perbedaannya. Bagi mereka yang pernah melihat proyektor home theater 480p akan merasa gambarnya jelek. Lebih kotak-kotak istilahnya.

Karena itu, jika memiliki dana lebih, mendingan membeli proyektor yang memiliki resolusi 800x480 pixel. Selain lebih tajam, fasilitasnya juga lebih lengkap. Biasanya sudah ada TV tuner digital maupun analog dan speaker internal.

Perbedaan Native Resolution dan Contrast Ratio Proyektor

Mengenai display resolution atau resolusi maksimal yang kadang membingungkan pembeli melalui tulisan, “ support 720p dan Full HD 1080p ” padahal native resolution-nya hanya 480p.

Semua proyektor murah maupun mahal pasti support display Full HD. Entah itu yang 240p, 320p, 480p, 720p, 1080p pasti bisa menampilkan gambar Full HD karena format filmnya akan dirubah dan disesuaikan dengan native resolution proyektor itu sendiri. Dengan kata lain dibesarkan atau dikecilan.

Sebagai contoh Film Full HD 1080p yang diputar di proyektor 240p akan mengalami pengecilan gambar. Istilahnya di-kompress dari format 1920x1080p menjadi 320x240p. Dengan kata lain, sebuah kotak yang berisi 2.073.600 titik akan dimampatkan menjadi 76.800 titik saja. Artinya ada pengurangan 1.996.800 titik atau -2.700%.

Gampangannya, film yang seharusnya tajam dan jelas tadi akhirnya menjadi ngeblur. Yang tadinya detail menjadi kabur. Apakah ini tujuan anda membeli proyektor home theater murah ?

Harga tidak mungkin berdusta. Ada rupa ada harga. Dua proyektor yang memiliki native resolution yang sama tetapi selisih beberapa ratus ribu seharusnya memiliki perbedaan. Mungkin saja karena perbedaan lumens, yang satu 1200 lumens, lainnya 1500 lumens. Ato meskipun sama-sama 480p, tetapi berbeda di garis horizontalnya. Yang satu 800x480p, lainnya 960x480p. Perbedaan kecil yang terkadang luput dari pengamatan kita namun pengaruhnya cukup signifikan….

 

FAKTOR LAIN YANG CUKUP PENTING

Tombol menu di body proyektor memang sepele, tapi manfaatnya besar sekali. Biasanya ada 3 bagian tombol, yaitu: Jog Dial, Menu dan tombol input/source.

Jog Dial, Menu dan Source button di Proyektor
Tombol Menu di Proyektor

Hampir 90% proyektor tidak memiliki fungsi auto input yang akan memilih secara otomatis port aktif. Ketika kita menancapkan kabel HDMI, secara otomatis, input HDMI aktif. Ketika kita melepas HDMI dan memasang flash disk, mode akan beralih ke USB Multimedia.

Berhubung proyektor yang anda beli cukup murah, sudah sewajarnya tidak memiliki fungsi auto-input ini. Sebagai gantinya anda diberikan remote. Dan sering kali kita lupa menaruh remote-nya. Yang lebih parah, lupa bentuk dan warna remote proyektornya sendiri. Maklum laaah jarang dipake.

Repotnya kalo mau mengganti mode dari HDMI ke USB atau sebaliknya dari VGA ke HDMI. “Remote mana ? Remote mana ? “ Tidak ketemu berarti batal nonton layar tancap. Padahal baru download film Fast and Furious 8. Sial 12 ! Gara-gara remote-nya gak ketemu.

Proyektor yang memiliki tombol di body-nya akan sangat membantu jika menghadapi situasi penting yang tidak genting ini. Tinggal tekan tombol input/source lalu tekan atas/bawah menuju input yang diinginkan dan tekan OK. Selesai !

Fungsi tombol menu ada banyak, seperti mengatur Brightness, Contrast, Aspect Ratio, Volume dan LED mode. Ini yang biasanya saya gunakan. Mengatur kecerahan dan ketajaman gambar melaui Brightness-Contrast. Mengatur aspect ratio 4:3 untuk menonton siaran TV dan menggantinya ke 16:9 ketika menonton film bioskop.

Pengatur kemiringan atau Keystone correction akan sangat berguna di lokasi yang terbatas. Ketika proyektor harus dimiringkan ke atas. Gambar akan menjadi sedikit melebar ke atas dan mengecil ke bawah. Seperti trapesium terbalik. Fungsi keystone di sini adalah mengatur kemiringan lampu sehingga gambar bisa kembali normal. Sekalipun proyektornya njingkat ke atas, tampilannya tetap tegak lurus.

Fungsi keystone correction di proyektor

Posisi yang ideal untuk meletakkan proyektor adalah sejajar dengan layarnya. Tepat di tengah layar. Boleh ditembak dari depan ataupun belakang, yang penting pas di tengah. Kalo sekiranya tempat anda tidak memungkinkan untuk menempatkan proyektor seperti ini, carilah proyektor yang memiliki tombol keystone correction.